Kata-Kata Bijak & Motivasi Kehidupan

Dualisme Sikap – Abaikan Keburukannya Tapi Jangan Abaikan Orangnya, Cuekin Sikap Jeleknya Tetapi Jangan Cuekin Orangnya

Dualisme Bersikap - Abaikan Keburukannya Tapi Jangan Abaikan Orangnya – Cuekin Sikap Jeleknya Tetapi Jangan Cuekin Orangnya10

Kata-kata bijak motivasi kehidupan

Jauhilah kejahatan teman tetapi jangan jauhi teman tersebut.

Abaikan sikap buruk seseorang tetapi jangan abaikan orangnya.

Acuhkan fitnah yang dilemparkan orang tetapi jangan acuhkan pelakunya.

Jangan memerhatikan kekhilafan yang dilakukan sesama tetapi berilah perhatian kepada orang lain.

Diamkanlah segala cemooh yang dilakukan sesama tetapi jangan mendiamkan mereka saat berkomunikasi.

Sepelekan kata-kata negatif yang dilemparkan orang tetapi jangan sepele merendahkan orangnya di dalam hati.

Berhentilah memerhatikan ejekan yang dilontarkan orang tetapi jangan berhenti mendoakan kebaikan mereka.

Lupakah keburukan yang pernah dilakukan seseorang tetapi jangan pura-pura lupa berbuat baik kepada orangnya.

Hindari jebakan tipu yang dilakukan seseorang tetapi jangan menghindar untuk ramah dan santun kepada orangnya.

Itulah kekuatan sejati yang menunjukkan kebijaksanaan abadi.

Mudah mengatakan tetapi sulit melakukannya

Hidup di dunia ini tidak sesederhana kata-kata. Sekali pun kita bersikeras untuk mengikuti kebenaran, kebenaran seperti apa yang dimaksudkan? Bagaimana cara melakukannya? Sejauh apa melakukannya? Bagaimana batas-batasnya? Apa akibat positif dan negatifnya? Siapa saja yang akan diuntungkan dan siapa saja yang akan dirugikan? Masih banyak lagi hal yang perlu dikupas seputar tujuan hidup mengkuti kebenaran. Bagi kita yang sudah berpengalaman pastilah memiliki rumusan khusus bagaimana cara menjalankan keyakinan tersebut selama menghidupi tiap-tiap hembusan nafas ini. Akan tetapi bagi orang yang baru mengenal hal tersebut pastilah lebih banyak pertanyaan yang akan diajukannya untuk mengetahui kejelasannya.

Teori yang tertulis terkadang tidak selalu sama dengan kenyataan di lapangan

Ada banyak jawaban yang kita berikan kepada seseorang untuk memenuhi rasa penasarannya terhadap sesuatu. Tetapi belumlah tentu semua yang kita ucapkan tersebut bisa dan telah kita lakukan secara langsung. Mungkin saja kita hanya sekedar memuaskan penanya dengan mengumbar teori yang belum tentu ditemukan dan dilakukan di dunia nyata. Sebab ada banyak manusia yang lebih suka bersandiwara selama menjalani hidupnya. Seolah-olah di hadapan orang lain hal tersebut rumit namun kenyataaannya bisa jauh berbeda dari pengakuan yang dibuatnya. Sedang kita sendiri tidak tahu persis tentang seluk-beluk kehidupan tokoh tersebut sebab dia berada jauh di pengasingan mewahnya. Sulit melakukan perbandingan karena kita hanya terbuai dengan kata-kata yang terucap sedang kejelasan tentang tindak tanduknya setiap hari samar-samar.

Hidup seperti dua sisi mata uang

Sekali lagi kami tegaskan bahwa hidup ini tidaklah sesederhana perkataan yang terucap. Dalam setiap tindakan yang kita tempuh dibuat berbagai-bagai pertimbangan sebelum melakukannya entah kepada siapa pun orangnya. Terlebih ketika hubungan dengan mereka sedang mengalami kerumitan yang tidak dapat dijelaskan dimana semua itu membuat kita semakin sulit untuk memutuskan. Ada suara hati yang mengatakan agar kita “mengiyakannya” saja dan ada pula suara hati yang menyarankan untuk “menolaknya.” Pula ada berbagai pendapat yang menyarankan agar kita “melakukannya” namun di sisi lain ada juga yang menyarankan agar kita “tidak melakukannya.” Sungguh, ada banyak praktek dualisme yang lebih banyak membingungkan kita saat melakukannya salah satunya seperti judul dari tulisan kami kali ini.

Beberapa hal yang berhubungan dengan dualisme

Mungkin ada yang bertanya-tanya di dalam hati, “bagaimana caranya memperlakukan musuh-musuh yang kita miliki? Bagaimana cara bersikap baik kepada seorang pembenci? Sejauh mana batas-batas kebaikan yang bisa kita lakukan terhadap oknum tertentu yang suka menguji diri ini? Terus bagaimana pula sikap menanggapi manusia yang selalu saja mendua, kadang baik dan kadang jahat?” Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang cenderung menggiring kita dalam kebingungan bersikap. Ada kesan yang cukup mendukung sikap serba salah yang dialami. Akan tetapi, mereka yang bijak selalu bisa menciptakan batasannya sendiri-sendiri sehingga ada kepastian yang membuat kita tahu persis apa yang harus dilakukan.

Pengertian – Sikap mendua yang positif

Dualisme bersikap adalah sikap memilah-milah (selektif) segala sesuatu agar dapat “mencermati, menganalisis dan menyerap” suatu keadaan sepositif mungkin sehingga mampu “mengambil atau melakukan” yang baiknya sedang yang buruknya “dibuang atau dijauhi” sama sekali. Seperti yang kami katakan sejak awal tulisan ini dibuat bahwa hidup ini tidak sesederhana kata-kata yang terucap. Saat ada orang yang bersikap kepada kita, sebaiknya menyaring hal-hal tersebut sehingga bisa dipilah-pilah. Ambilah yang baiknya sedang yang buruknya silahkan abaikan. Atau lebih tepatnya, abaikanlah ekspresinya yang negatif tetapi tetap lakukan apa yang terbaik yang bisa diberikan kepadanya. Inilah hidup yang luar biasa dimana kita tidak sekedar membeo kejahatan melainkan memaklumi dan menyeleksinya bagus-bagus lalu membalasnya dengan kebaikan yang lain.

Ancaman di balik dualisme yang disengaja dan terkesan berlebihan

Orang yang picik pemikirannya bisa saja menjadikan sikap dualisme sebagai alasan untuk berbuat jahat kepada sesama. Sadarilah bahwa dualisme itu seperti dua sisi mata uang yang berlainan tetapi sama-sama bermanfaat untuk kebaikan manusia. Dualisme ini tidak bisa digambarkan seperti  air putih dan air beracun: ini jelas-jelas sangat berbeda dan beresiko menyakiti bahkan membunuh seseorang. Paham dualisme terbentuk akibat ketelodoran manusia sehingga hidupnya terkadang menyimpang sedikit dari jalur yang benar walau nanti akan kembali lagi. Ketelodoran adalah suatu sikap yang tidak disengaja. Semua orang bisa saja khilaf, jadi berikanlah ruang untuk mentolerir kesalahan tersebut sambil-sambil membalasnya dengan kebaikan yang lain (setidak-tidaknya doakanlah dia dalam hati, ramahlah, santunlah).

Orang yang pintar-pintar mengakali sesamanya, bisa saja menggunakan dualisme sikap ini sebagai dasar untuk berbuat baik sambil berbuat jahat kepada sesama. Mereka memanfaatkan teori ini untuk membuat hidupnya tidak konsisten sama sekali. Sadarilah bahwa inkonsistensi dalam bersikap justru membuat kita kehilangan kebahagiaan dan ketenteraman hati dalam waktu singkat. Sekali pun ada rasa senang yang kadang dirasakan saat menikmati hidup, akan terasa hambar juga karena tidak bisa mempertahankan kesenangan tersebut menjadi kebahagiaan. Semua ini terakumulasi karena rasa bersalah yang bercampur dengan rasa takut. Oleh karena itu, pakailah dualisme bersikap untuk menyeleksi  apa yang perlu diambil/ tidak diambil, apa yang perlu ditanggapi/ tidak ditanggapi, apa yang perlu diucapkan/ tidak perlu diperkatakan dan apa yang perlu dilakukan/ tidak perlu dilakukan.

Mereka yang bijak selalu tahu momennya, kapan menerima sesuatu, kapan melakukannya. Kapan menanggungkan untuk memberi kepercayaan dan kapan saatnya memberi kepercayaan. Pula kapan menolak sesuatu, kapan tidak menyetujuinya, kapan mendiamkannya dan kapan tidak melakukannya. Semua itu perlu dilakukan pada momen yang tepat, belajarlah dari pengalaman dan pelajari jugalah kehidupan orang-orang di sekitar kita.

Kesimpulan

Ada banyak orang yang berseliweran di sekitar kita, mereka bisa saja mengekspresikan hal-hal yang buruk namun dapat pula melakukan hal-hal yang baik. Sadarilah selalu bahwa di dunia ini tidak ada manusia sesempurna yang biasanya digambarkan oleh para penyair lewat kata-kata puitis. Terkadang sesama melakukan kekhilafan yang bisa saja berdampak buruk bagi kehidupan kita, entah itu disengaja atau tidak, entah itu berdampak langsung atau tidak. Di sinilah kebijaksanaan kita sangat diuji: “apa menjadi orang yang menghakimi sesama lalu menganggap bahwa semua yang dilakukannya salah.” Atau kita memilih untuk bersikap bijak selektif “mengabaikan hal-hal negatif yang diekspresikan dan mengambil sisi positifnya.” Dalam hal ini, “mengambil sisi positif” bisa diartikan sebagai sikap yang “menindak lanjuti hal tersebut untuk segera dilakukan.” Juga bisa diartikan sebagai kebiasaan yang “selalu berbuat baik kepada seseorang walau kadang sikapnya jahat:” itulah yang namanya mengasihi musuh.

Berikan toleransi terhadap kesalahan orang lain yang wajar, entah itu disengajanya atau tidak, bukan urusan kita. Yang terpenting, selesaikan bagianmu dan bebaskan hati dari rasa kesal karena dendam yang semakin memperbanyak keregangan relasi dengan sesama.

Salam, Hidup penuh dengan dualisme,
Ini bukan kesempatan untuk menjadi inkonsisten,
tetapi tindakan untuk menolerir kekurangan/ kekhilafan.
Sebab di antara manusia tidak ada yang sempurna seorang pun
Yang bisa kita lakukan adalah memahami, memaklumi dan memilahnya,
menyingkirkan sisi negatif dan mengambil/ melakukan yang positifnya
!

 

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.