Kepribadian

Bersandar Pada Kelebihan Duniawi Membuat Manusia Makin Jahat – Mengandalkan Dunia Membuat Jalan Hidup Menuju Keburukan

Bersandar Pada Kelebihan Duniawi Membuat Manusia Semakin Jahat

Siapa yang lebih penting?

Manusia dengan pikirannya yang hebat, kadang terbawa emosi sehingga menganggap dirinya adalah yang lebih penting di seluruh alam semesta. Suatu sudut pandang yang bukan saja berpotensi melemahkan melainkan turut pula menghancurkan kemanusiaan itu sendiri. Untuk menunjukkan babhwa dirinyalah yang terpenting maka di dalam masyarakat tersusun berbagai jabatan ddengan jenjang masing-masing. Semakin tinggi tingkat pencapaian jabatan dan pendidikan maka semakin besar pendapatan dan fasilitas yang dimiliki. Artinya, dunia kapitalis menakar seberapa pentingnya seseorang bagi perusahaan dengan memberikan orang-orang tersebut lebih banyak sumber daya. Padahal sehebat-hebatnya seorang pejabat/ pemimpin, tidak akan bisa melakukan apa-apa tanpa bawahannya. Akan tetapi, karyawan/ pegawai tetap bisa menjalankan tugasnya dengan lancar tanpa pemimpin/ pejabat di sekitarnya asalkan ada yang namanya peraturan.

Pesan keadilan sosial (kesetaraan)

Nyatanya, organisasi bisa berjalan lancar tanpa pemimpin/ pejabat di sekitar asalkan karyawan berpegang pada aturan yang berlaku. Tetapi, suatu organisasi perusahaan tidak bisa berjalan dengan normal tanpa adanya karyawan yang mengerjakan berbagai proses produksi. Jadi lebih penting siapa, pemimpin-pejabatnya atau karyawan-bawahannya?

Hal-hal baik rusak karena ide dimanfaatkan demi sentralisasi sumber daya kepada oknum tertentu saja

Begitulah manusia yang licin akal bulusnya dalam memainkan peran untuk menokohi orang lain. Sadarilah bahwa pemanfaatan ide energi untuk tujuan meninggikan diri sendiri berpotensi melemahkan kepribadian tiap-tiap orang. Justru dengan mengambil posisi tinggi kaya sumber daya, manusia menjadi manja. Saat orang yang suka bermanja-manja lebih doyan menikmati hidup daripada melakukan aktivitas positif niscaya otak pun menjadi tumpul. Justru kenyamanan yang berlebihan beresiko membuat kehidupan berada dalam kebobrokan di tengah nafsu yang serakah akan berbagai-bagai hal duniawi lainnya. Otomatis, orang-orang semacam ini bisa menggerogoti sistem dari dalam sehingga rusak dimana-mana (contoh kecilnya korupsi). Terlebih jika jumlah para pejabat yang hobi penggelapan sifatnya mayoritas, nasib organisasi/ sistem/ negara berada diambang kebangkrutan.

Dunia ini seimbang, kalau ada yang tinggi harus ada yang pendek; kalau tidak ada yang tinggi dan pendek berarti semua setara

Saat pikiran digunakan untuk tujuan membanggakan diri sendiri, kita akan terjebak dalam praktek manipulasi kotor yang dikonspirasikan dengan segelintir orang. Sebab sehebat apa pun ide, jika tujuannya untuk meninggikan diri, pasti di sisi lain ada yang direndahkan, itulah yang namanya keseimbangan. Dimana ada yang tinggi, di situ ada yang rendah; sedang dalam kesetaraan, tidak ada yang tinggi atau rendah melainkan semuanya sama-sama hidup dalam keseimbangan. Pemikiran untuk meninggikan diri di antara sesama memang bisa ditempuh lewat berbagai cara. Misalnya dengan gelar akademik, jabatan kelas tinggi,  kekayaan tak ternilai dan lain sebagainya. Sadarilah bahwa ada hal-hal yang dikorbankan/ dirugikan lewat semua pencapaian tersebut. Akan tetapi, orang yang berusaha mencapai kesetaraan hidup selalu mendapat pemikiran positif yang dikembangkan dengan logika sehat tanpa merugikan siapa pun, baik secara langsung mau pun secara tidak langsung.

Kenikmatan dan kemuliaan adalah sesuatu yang selalu mencobai manusia

Segala sesuatu di mulai dari ide. Apa yang kita pikirkan sangat menentukan keberlanjutan dari semua sikap dan usaha yang dilakukan sehari-hari. Orang yang membahas-bahas hal yang benar di dalam hatinya niscaya kata-kata dan perbuatannya pun tidak jauh-jauh dari kebenaran itu sendiri. Ketika manusia berupaya untuk mencari kebenaran maka hidup akan lebih mengarah kepada hal-hal positif. Namun yang namanya godaan itu selalu ada. Orang benar tanpa pernah dicobai dapat diragukan imannya. Sebab di dalam pencobaanlah seharusnya kita belajar untuk memantapkan hati berjalan di jalan Tuhan. Dimana cobaan iman terbesar sesungguhnya terletak dalam hal nafsu akan kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Mereka yang gagal menghadapi godaan semacam ini berpotensi besar mencari dan menumpuk materi demi dirinya sendiri dengan menghalalkan segala cara. Sedang mereka yang gagal menghadapi godaan materi tetapi tidak mampu mencapai tinggi besarnya akan dipenuhi oleh dendam, iri hati dan kebencian yang siap dilepaskan kepada siapa pun.

Menjadi kapitalis, inspirasinya dari Tuhan, tetapi manusia terlalu fokus pada dunia dan bersandar padanya, Tuhan pun dilupakan

Semua ide berasal dari Tuhan sebab Allah dapat mempengaruhi segala sendi pemikiran manusia. Akan tetapi, Dia tidak suka mengintervensi manusia secara ketat sehingga berujung menjadi intimidasi. Melainkan Dia memberikan kepada kita banyak gambaran dan peristiwa untuk dibanding-bandingkan sehingga muncullah suatu ide, entah itu positif atau negatif. Di atas semuanya itu, harap dipahami bahwa kecenderungan ide menjadi negatif atau positif, tergantung dari pilihan manusianya sendiri. Sedang pemikiran untuk menjadi kapitalis juga inspirasinya dari Tuhan. Dia memberitahukan kepada kita bagaimana caranya untuk bertahan di tengah dunia yang sulit, yaitu dengan berusaha keras dan tekun memperjuangkan apa yang dicita-citakan. Namun, jalan-jalan yang ditempuh akan mengalami penyimpangan oleh karena manusia bersandar bahkan ketergantungan pada kekayaan dan penghormatan duniawi.

Manusia menjadikan kelebihan duniawinya menjadi tameng kesenangan saat ada persoalan

Kekuatan pikiran malah menyimpang karena sandaran kita bukan lagi kepada Tuhan melainkan pada kemilau materi dan harum mulia nama. Sebab kita lebih fokus kepada ekspresi yang ditangkap oleh indra ketimbang apa yang dirasakan oleh hati. Saat sesuatu besar, tinggi dan lebar menurut mata dan telinga maka langsung saja menganggapnya sebagai sumber kebanggaan yang pantas diperjuangkan. Saat ada masalah yang datang, kita membanggakan keduniawian tersebut sehingga hati terasa senang dan lalulah rasa sakit itu. Terlebih ketika berurusan dengan orang yang lebih rendah posisinya, membandingkan kehidupan yang mereka jalani dengan yang kita alami sehingga ada rasa puas bisa lebih dari sesama. Segala megah materi dan mulia duniawi, itulah yang kita kupas di dalam hati, “bagaimana agar lebih lagi?” Dengan demikian, kepercayaan kepada Sang Pencipta terlupakan, tinggal jadi ktp belaka. Sedang di sisi lain moralitas menjadi acak-acakan, cenderung merugikan sesama dan lingkungan sekitar walau kelihatannya orang baik-baik dari luar (munafik).

Berhenti melebih-lebihkan diri sendiri di dalam hati lalu mulailah mencari penghiburan dengan cara yang benar

Adalah baik bagi kita untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri dalam aspek perjuangan apa pun di dunia ini. Melainkan memberi hati juga untuk memikirkan kepentingan orang lain. Tidak perlu menyimpan dendam kepada sesama sebab semakin tinggi sakit hati maka niat untuk lebih unggul materi dari orang lain mengental dan sanggup mengotori tujuan-tujuan baik yang sudah direncanakan dari awal. Bersabarlah menghadapi cobaan yang datang di hadapan anda sebab itulah dasar ketenangan hati. Lanjutkan hidup, fokus kepada Tuhan, pekerjaan dan pendidikan maka segala rasa sakit itu akan berlalau. Berhentilah menjadikan keunggulan harta kekayaan dan nama besar yang dimiliki sebagai sandaran hidup saat menghadapi tekanan kehidupan tetapi bersandarlah kepada Tuhan.

Semakin membanggakan diri, kehidupan kita makin menjauh dari Tuhan dan sesama manusia

Selama manusia bersandar pada hal-hal besar yang ada dalam rumahnya saat mengalami masalah sosial, maka selama itulah niat untuk menimbun lebih banyak kekayaan dan mencapai jabatan terbesar akan terus ada. Memang jelas ketika kita berbangga hati rasa sakit yang ditimbulkan orang lain pun akan berlalu digantikan oleh rasa senang. Akan tetapi, dampak buruk dari kebiasaan ini adalah “kita menempatkan harga diri terlalu tinggi dibandingkan orang lain.” Ada gangguan kecil saja, orang tertawa kecil saja di sekitar kita sudah merasa diri direndahkan. Jika keadaan ini terus berlanjut maka kehidupan kita akan semakin terisolasi dalam tembok tebal kemewahan, tersudut dalam mesin caggih berbalut baja dan selalu menyendiri karena enggan berbaur dalam keramaian. Sedang pengaruh kejahatan akan semakin meningkat, mengotori pikiran, perkataan dan perbuatan. Di antaranya kecanduan akan uang dan pujian yang banyak bisa membuat seseorang melegalkan upaya kotor untuk mencapai tujuan tersebut.

Pengertian

Defenisi – Bersandar kepada kenikmatan dan kemuliaan duniawi adalah menjadikan keunggulan/ kelebihan duniawi yang dimiliki sebagai alat untuk menimbulkan rasa senang dengan membangga-banggakannya di dalam hati sehingga derita jiwa pun berlalu untuk sesaat saja. Kebiasaan ini jelas membuat kita ketergantungan dengannya padahal sumber daya yang tersedia terbatas. Itulah sebabnya, tinggi persaingan yang terjadi saat kita mulai memforsir kehidupan untuk mengejar uang dan jabatan (orang lain juga mau dong….). Bisa saja terdorong untuk menghalalkan segala cara karena sudah terlanjur candu sehingga merusak diri sendiri, orang lain, sistem dan lingkungan sekitar.

Kesimpulan

Memang tepat bila dikatakan bahwa hal-hal duniawi bisa membuat kita senang. Bahkan di tengah pergumulan yang menyusahkan hati, kita bisa memikirkan keunggulan/ kelebihan yang dimiliki sehingga timbul rasa senang dan lalulah rasa sakit itu. Namun sadarilah bahwa senangnya itu hanya sesaat saja. Adalah baik bagi setiap orang percaya menjauhkan diri untuk berbangga hati terhadap kemilau harta dan nama besar duniawi yang dimiliki. Sebab tindakan tersebut akan semakin membuat kita dekat dengan hal-hal jahat lainnya (misalnya korupsi, berbohong). Artinya, kesombongan semacam ini adalah pintu bagi sikap hidup yang akan semakin buruk dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, bersandarlah kepada Allah saja, jadikan puji-pujian kepada Tuhan sebagai penghiburan dikala sedih. Menekuni aktivitas belajar dan bekerja sambil membuat hidup bermanfaat bagi (mengasihi) sesama. Selalu ikhlas menerima kenyataan dan hidup sederhana di segala waktu. Hal-hal positif semacam ini sifatnya konsisten membuat bahagia dan tenteram sampai menutup mata.

Salam, Berhenti bersandar pada dunia,
Itu membuat kita semakin jahat,
Kebenaranlah sandaran utama
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.