Gejolak Sosial

+10 Manusia Mengecewakan Diri Sendiri Bukan Tuhan Yang Melakukannya

Keinginan syarat arogansi memilukan hati. Tuhan mengehendaki kesetaraan bukan satu-dua orang diunggulkan secara materi atas sesamanya. Berharaplah pada hal-hal sorgawi di kehidupan berikutnya.

Nafsu selalu ada, sudahkah itu dikontrol penuh?

Berhati-hatilah dengan keinginanmu kawan. Selalu miliki neraca nafsu untuk menimbang, apakah yang kita inginkan tersebut sudah selayaknya, sesuai momennya, tidak berlebihan dan jangan sampai menyimpang dari jalur yang benar. Hasrat yang ditimbulkan oleh hati sifatnya bebas tanpa kendali, sebebas otak mengimajinasikan sesuatu. Semakin cerdas seseorang, harus makin jeli pula menimbang-nimbang hawa nafsu yang timbul dari dalam hati. Sebab banyak macamnya rupa-rupa keinginan yang ditimbulkan oleh otak saat kecerdasan kian melejit. Pelajarilah baik-baik firman Tuhan sebab di sana banyak termuat kisah-kisah manusia yang bergumul melawan keinginannya sendiri maupun keinginan orang lain.

Kekecewaan beresiko membuat kita menyalahkan Yang Maha Kuasa

 Manusia terlalu pasrah kepada indranya sedang otaknya melemah dalam buaian kefanaan. Apa yang pernah kita lihat, dengar, kecap, baui dan diraba-raba terus terngiang di dalam hati ini. Pikiran tidak fokus pada hal-hal baik, malah yang timbul di dalam hati adalah “bagaimana caranya kita menginginkan hal-hal tersebut.” Saat kita ditawan oleh keinginan terhadap sesuatu, terkadang suka berlebihan sampai kelewat batas. Lantas, kebetulan sekali, kita menemukan dalil-dalil tertentu yang memperkuat keinginan tersebut. Saat kita sedang bersungguh-sungguh untuk mendoakan dan mengharapkannya, lama-kelamaan menyadari bahwa apa yang diinginkan tersebut sulit atau belum kunjung tercapai. Tidak ikhlas menerima kenyataan tersebut, sekonyong-konyong menyalahkan si ini – si itu bahkan menyalahkan Tuhan pula.

Keinginan yang besar butuh pengorbanan besar

Ketika hawa nafsu kita dibubuhi oleh arogansi, keinginan untuk mencapai hal yang besar, tinggi, luas dan banyak kian meradang. Terlebih ketika kita merasa yakin bahwa hal-hal yang kelihatan dan kedengaran luar biasa, itulah yang menjadi tujuan hidup ini. Entah apa dalil yang digunakan untuk memperkuat hasrat agar di masa depan beroleh berkat secara berlipat ganda. Mungkin saja melalui mimpi dan tidak tertutup kemungkinan setelah membaca Kitab Suci. Di atas semuanya itu, perlu disadari bahwa “semakin besar yang kita inginkan maka semakin besar pula pengorbanan yang harus direlakan.” Apakah anda telah mempersiapkan diri untuk semuanya itu dan telah menabung pengorbanan untuk ditukarkan dengan karunia yang layak?

Nafsu masyarakat semakin menggila dalam sistem sosial yang tidak adil

Sistem bermasyarakat yang ada saat ini mengindikasikan bahwa hanya oknum tertentu saja yang layak mendapatkan sesuatu yang luar biasa nilainya Akibatnya, setiap orang cerdas yang menyadari besarnya imbalan pada bidang tersebut akan beramai-ramai memperebutkannya sampai titik darah penghabisan. Di sinilah mulai terjadi berbagai kemungkinan pelanggaan. Parahnya lagi, berbagai bentuk persaingan tidak sehat yang mereka legalkan dipopulerkan oleh media sehingga masyarakat turut terpancing emosinya. Ada yang menanggapinya positif dan ada yang negatif tetapi ada pula pihak yang iri hati dengan berupaya memiliki cita-cita untuk menjadi salah satu dari tokoh populer tersebut. Ini menunjukkan bahwa sistem kapitalisme yang berjenjang-jenjang dan peliputan yang dilakukan oleh media sangat mempengaruhi besar kecilnya nafsu masyarakat.

Pengertian

Manusia dengan segala keinginannya yang beraneka rupa memiliki eksplorasi sendiri terhadap hal-hal tersebut. Nafsu yang berkeinginan untuk hidup begini begitu bisa saja ditimbulkan oleh orang lain, lingkungan sekitar, media pemberitaan dan sistem yang berjenjang-jenjang. Sadarilah bahwa semua hal-hal tersebut dapat menawan hati sehingga terpikat lalu berupaya mendapatkannya. Sedang di sisi lain kehidupan, kita suka memaca firman yang tidak saja berisi perintah dan larangan Yang Maha Kuasa melainkan janji-janji-Nya terhadap umat manusia. Lantas, untuk membenarkan apa yang kita ingini, memanfaatkan ayat-ayat trtentu dalam firman sehingga makin semangat mengharapkan dan mendoakannya. Namun, saat apa yang kita harapkan tidak kunjung terjadi, mulailah bersungut-sungut menyalahkan banyak pihak sampai menyatakan bahwa Tuhan telah mengecewakannya. Padahal semua keadaan tersebut disebabkan oleh karena kesalahan sendiri yang terlalu sombong dan GR menghadapi dunia ini.

Manusia mengecewakan diri sendiri adalah manusia yang tertipu oleh indranya sehingga menginginkan sesuatu yang besar-besar, tinggi-tinggi dan banyak-banyak yang masih berada di luar jangkauan, namun pada akhirnya tidak terwujud yang beresiko menimbulkan kekecewaan besar di dalam hati. Hati yang terbuai dengan pesona yang dicitrakan oleh indra membuat seseorang menginginkan hal tersebut menjadi miliknya atau terjadi dalam kehidupannya, entah itu segera atau nanti. Keinginan yang dipaksakan pada sesuatu yang tinggi, besar, banyak dan melimpah-limpah. Kemudian diperkuat oleh pemahaman terhadap firman yang dangkal semata-mata untuk mendukung hasrat yang menggebu-gebu tersebut. Ketika nafsu tersebut tidak jebol, timbul perasaan yang menyalahkan banyak pihak termasuk menganggap janji Tuhn gagal.

Defenisi
Cara Manusia Mengecewakan Diri Sendiri Bukan Tuhan Yang Melakukannya

Cara manusia mengecewakan dirinya sendiri

Mungkin ada di antara kita yang pernah merasa kecewa karena apa yang diinginkannya tidak kunjung terwujud. Keadaan hidupnya malah lebih parah lagi setelah cita-cita tidak terwujud, melampiaskan kekesalahan hatinya dengan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan Berpikir bahwa dengan berlaku jahat dan keji, bisa mengganggu Yang Maha Kuasa. Padahal semua balas dendam yang kita rancangkan tidak sedikit pun merugikan Allah, yang terjadi malah kita sendirilah yang merasakan dampak buruk dari keadaan tersebut. Oleh karena itu, pahamilah beberapa pola yang kami uraikan di bawah ini. Agar di masa mendatang dapat menstabilkan keinginan kembali ke nilai normal (standar saja).

1. Memanen sumber daya yang ada.

(Kejadian  1:28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Sumber: Alkitab

Tuhan telah menganugerahkan kepada setiap manusia untuk menjadi penguasa terhadap seluruh binatang yang ada di dalam bumi. Kita berhak untuk mengonsumsinya seberapa pun itu dibutuhkan. Akan tetapi, bukan dalam arti bisa memunahkan binatang sesuka hati melainkan perlu manajemen sumber daya yang baik. Pengaturan sumber daya masih dibutuhkan agar keberadaan makhluk hidup lainnya tetap lestari, selama bertahun-tahun dari generasi sebelumnya sampai generasi berikutnya dan dari zaman ke zaman. Seperti ada tertulis.

(Kejadian  1:22) Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.”

Sumber: Alkitab

Kita sering sekali berlaku semena-mena terhadap makhluk hidup lainnya padahal jika membaca Kitab Suci maka akan menemukan bahwa sesungguhnya perintah untuk berkembang biak memenuhi bumi tidak hanya diberikan kepada manusia melainkan makhluk hidup lainnya pun telah diberi mandat untuk bertambah banyak. Bahkan terkhusus kepada ikan, diperintahkan untuk memenuhi lautan sama seperti manusia yang memenuhi bumi.

Sewaktu belum mengenal rahasia kasih-Nya, kita kecewa kepada Tuhan karena ternyata saat manusia memenuhi bumi terjadilah yang namanya seleksi alam dan seleksi sosial. Akan tetapi, setelah mengetahui cara memutar sumber daya dan memahami keberadaan makhluk hidup lain sebagai penopang keberadaan umat manusia, sejak itulah kita semakin yakin bahwa manusia selalu dimungkinkan untuk memenuhi bumi asalkan tumbuhan, burung di udara dan ikan di lautan turut berkembang bersama-sama manusia dalam sebuah ekosistem kompleks bumi.

2. Menjadi terhormat di antara manusia.

(Ulangan  26:18-19) Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, dan Ia pun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya.”

Sumber: Alkitab

Ada orang yang dengan sengaja menggunakan ayat ini untuk mencari hormat dan pujian dari manusia. Padahal dengan berlaku demikian dia beresiko kecewa di waktu mendatang. Wajar kalau kecewanya terhadap diri sendiri tetapi kalau sampai menyalahkan Tuhan atas kejadian buruk tersebut, ini sudah tidak pantas lagi!

Memang Tuhan telah menjanjikan pujian dan penghormatan bagi setiap orang yang mematuhi perintah-Nya. Tetapi, harap dipahami bahwa kepatuhan terhadap firman dipenuhi lewat aktivitas melayani dengan setulus hati. Artinya, segala kebaikan yang kita berikan kepada sesama diperbuat seperti untuk Tuhan dan balasannya pun diharapkan dari Tuhan. Justru kebaikan kita rasanya menjadi hambar karena berharap agar orang tersebut membalasnya dengan memuji dan menghormati kembali. Oleh karena itu, jadilah orang benar tetapi hindari mengharapkan kemuliaan di atas semuanya itu. Sebab upah asli dan abadi atas sikap yang setia dan taat terhadap Sang Pencipta diperoleh di sorga kelak. “Tujukan pikiran pada sorga dan berhenti berharap kepada manusia tetapi tuluslah melakukan kebaikan kepada sesama.” Seperti ada tertulis.

(Kolose  3:23) Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Sumber: Alkitab

3. Menjadi lebih lebih populer, lebih tersohor, lebih berpengaruh dibandingkan yang lainnya.

(Ulangan 28:1)”Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.

Sumber: Alkitab

Dalam sebuah perhelatan yang melibatkan banyak orang, kita mulai melebarkan harapan akan memenangkan even tersebut. Lantas menggunakan firman ini sebagai dasar doa yang kemudian diangkat ke hadapan-Nya, bahwa kita akan diangkat Tuhan di atas semua peserta lainnya sehingga memikat hati para juri. Padahal Tuhan tidak mengatakan firman tersebut agar kita saling mengalahkan dalam sebuah kompetisi. Melainkan Tuhan mengangkat nama kita karena sikap yang sudah benar dan sportif adanya hingga akhir pertandingan. Sportivitas yang tulus ini tidak membutuhkan pengakuan dari manusia melainkan upahnya akan kita terima di sorga kelak, oleh karena itu bertahanlah untuk terus berbuat yang benar.

4. Segala usaha kita diberkati Tuhan.

(Ulangan  28:8) TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.

Sumber: Alkitab

Kita sering mengecewakan diri sendiri dengan mengatakan bahwa perjuangan yang kita torehkan kali ini pasti akan menuai kesuksesan. Sebab janji-Nya mengatakan bahwa Ia akan memberkati segala usaha kita. Akan tetapi, harap diketahui bahwa rancangan Tuhan tidak seperti rancanangan manusia Lagi pula dalam firman tersebut Dia berjanji bahwa akan “memberkati segala usaha kita” bukannya “membuat berhasil segala usaha kita.” Beda lho teman antara memberkati dan membuat berhasil/ sukses. Sebab yang namanya berkat itu bisa dalam berbagai bentuk. Mungkin kegagalan dalam usaha anda kali ini telah menuai berkat kesabaran, keikhlasan dan kerendahan hati yang berlimpah-limpah. Sehingga anda tidak stres menghadapi kegagalan tersebut melainkan tetap ada sukacita, mungkin rejeki ada di bidang usaha lainnya.

Oleh karena itu, hindari sikap kecewa yang berlebihan. Sebab biar bagaimana pun sampai sekarang anda masih tetap hidup. Segala kebetuhan yang diperlukan telah dicukupkan Tuhan. Bukankah ini juga merupakan salah satu hal yang patut untuk disyukuri dari waktu ke waktu sehingga sukacitamu penuh di dalam Tuhan? Seperti ada tertulis.

(Yesaya 55:8-9) Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Sumber: Alkitab

5. Menjadi ketua/ direktur/ petinggi/ kepala/ pejabat.

(Ulangan  28:13) TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kau lakukan dengan setia,

Sumber: Alkitab

Mohon kawan perhatikan lagi, apakah janji Tuhan tersebut mengatakan bahwa orang percaya akan menjadi ketua/ direktur/ pejabat/ kepala pemerintahan? Maksud Tuhan bukanlah untuk menjadikan kita sebagai kepala atas semua orang, sebab jika demikian ceritanya, siapa lagi yang menjadi perut dan siapa pula menjadi ekor dan bagian-bagian tubuh lainnya?

Memang bila diartikan secara harafiah maka kepala yang dimaksudkan adalah posisi tertinggi di dalam masyarakat/ komunitas tertentu. Akan tetapi, alangkah lebih adil jika firman tersebut dikaitkan dengan kepemimpinan masing-masing orang terhadap diri sendiri dimana dia bisa memilih dengan bebas. Memang di dalam dunia ini tidak semua hal bisa kita pilih, ada hal-hal tertentu yang sudah diatur dari sononya tetapi ada pula hal-hal lainnya yang dapat kita pilih sendiri. Seperti pakaian, makanan dan aktivitas lainnya. Bukankah itu menunjukkan bahwa kita adalah kepala terhadap diri sendiri?

Di tempat kerja juga kita adalah kepala bagi diri sendiri sebab tidak harus diperintahkan untuk melakukan ini-itu melainkan kita melakukan pekerjaan itu dengan niat hati yang tulus dan tanpa paksaan. Bukankah semuanya sudah ada aturan mainnya? Jadi tidak ada yang memperbudak kita dengan semena-mena sebab semua sudah ada aturannya yang manusiawi.

6. Memiliki harta yang berlimpah-limpah.

(Amsal 3:16) Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan.

Sumber: Alkitab

Ayat ini sering sekali menjadi dalil bagi beberap oang untuk menjadi kaya raya dan terhormat dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya. Padahal dengan berlaku demikian, dia mengecewakan dirinya sendiri kelak. Sebab justru harta yang terlalu banyak itu akan menggiringnya dalam kemewahan hidup yang merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar.

Tolong diperhatikan lagi perkataan dari firman tersebut, yang dimaksudkan oleh penulis amsal adalah “kekayaan di tangan.” Kekayaan yang bisa digenggam atau dibawa menggunakan tangan bukanlah hal-hal yang terlalu besar dan banyak. Melainkan harta yang kita miliki sifatnya sedang-sedang saja, artinya tidak terlalu sedikit dan juga tidak terlalu banyak. Sedang-sedang saja juga bisa diartikan sebagai upaya untuk hidup sederhana. Memiliki uang dan menggunakannya seperti kebanyakan orang di sekitar kita. Tidak terlalu mencolok karena bukan untuk dipamerkan melainkan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan bukan demi kebanggaan.

7. Menjadi ditakuti dan membuat orang lain gemetaran tiap kali berjumpa.

(Ulangan  2:25) Pada hari ini Aku mulai mendatangkan ke atas bangsa-bangsa di seluruh kolong langit keseganan dan ketakutan terhadap kamu, sehingga mereka menggigil dan gemetar karena engkau, apabila mereka mendengar tentang kamu.”

Sumber: Alkitab

Ada hasrat di dalam sanubari masing-masing orang untuk menjadi pribadi yang disegani dimana pun berada. Mereka bisa saja menggunakan ayat ini untuk mendoakan keinginannya agar setiap kali berpapasan dengan siapa pun, orang tersebut gemetaran karenanya. Padahal pandangannya terhadap rasa gentar tersebut terlalu berlebihan sehingga beresiko mengalami kekecewaan kelak. Lagi pula kalau orang terlalu takut sama kita, hati yang sombong mengembang dan perilaku serta perkataan pun mulai menyimpang

Ketakutan yang dimaksudkan Tuhan dalam bagian ini bukanlah ketakutan seperti yang kita inginkan. Sebab masing-masing manusia adalah setara dan tidak ada orang yang perlu ditakuti sebab hanya kepada Tuhan sajalah ketakutan kita. Rasa takut yang dimiliki sesama terhadap kita berupa keseganan untuk melakukan yang jahat kepada kita. Mereka segan ngejahatin kita karena sadar betul bahwa diri ini adalah orang benar. Tidak ada kesalahan spesifik dan jelas yang pernah dilakukan sehingga kita tidak bisa dijerat oleh hukum atau aturan apa pun.

8. Mampu mengalahkan musuh.

(Keluaran 26:7) Kamu akan mengejar musuhmu, dan mereka akan tewas di hadapanmu oleh pedang.

Sumber: Alkitab

Lagi, firman Tuhan berkata;

(Keluaran 23:27) Kengerian terhadap Aku akan Kukirimkan mendahului engkau: Aku akan mengacaukan semua orang yang kau datangi, dan Aku akan membuat semua musuhmu lari membelakangi engkau.

Sumber: Alkitab

Ini merupakan beberapa ayat yang cocok digunakan di masa peperangan. Pergumulan hidup memang datang secara tiba-tiba sehingga bisa saja menimbulkan kekesalan hati. Mungkin saja ada orang yang berpikir cepat agar musuh-musuhnya segera ditaklukkan Tuhan. Lantas mendoakan agar orang-orang tersebut disambarin oleh murka Tuhan sehingga kapok. Sadarilah bahwa keinginan semacam ini beresiko tinggi terbanting kecewa. Sebab yang namanya musuh itu selalu ada dan bisa siapa saja bahkan orang terdekat sekali pun bisa memusuhi kita. Buktinya, suami istri pun bisa bercerai karena saling musuh-memushi. Lagi pula keberadaan lawan atau lebih tepatnya rival di sekitar kita justru bermanfaat untuk melatih keikhlasan, kerendahan hati dan kesabaran. Oleh karena itu bersikap positiflah terhadap musuh kita.

Benarlah perkataan Tuhan Yesus Kristus yang menyarankan agar setiap orang percaya mengasihi musuhnya. Balaslah kekerasan yang mereka lakukan dengan kelembutan. Itulah bukti konkrit yang menunjukkan bahwa perkembangan kepribadian seseorang telah mencapai batas atas. Artinya, manusia yang masih belum mampu mengasihi musuhnya tingkat kecerdasannya masih belum berkembang tetapi mereka yang mampu mengasihi musuhnya memiliki kecerdasan di atas manusia biasa. Oleh karena itu, mulailah belajar untuk berbuat baik kepada para lawanmu untuk meningkatkan kapasitas kepribadian menjadi luar biasa. Seperti kata firman.

(Matius  5:44) Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Sumber: Alkitab

9. Sembuh dari penyakit secara total.

(Mazmur  107:20) disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur.

Sumber: Alkitab

Kami juga dahulu sempat berpikiran seperti ini. Merasa bahwa penyakit yang dialami dapat sembuh total. Tetapi dengan berharap demikian, kami telah mengecewakan diri sendiri. Sebab penyakit yang dianugerahkan Tuhan pun bermanfaat bagi kehidupan. Secara tidak langsung, penyakit yang diderita itulah yang menginspirasikan kami untuk menulis beberapa hal tentang kesehatan. Dari sinilah kami mulai menerima kenyataan bahwa sisa-sisa penyakit tersebut masih ada sebagai alat untuk merendahkan hati dan selalu terpaut kepada Tuhan. Lagi pula sudah genaplah firman Tuhan di atas sebab kami telah “luput dari liang kubur” sampai sekarang.

Hal yang sama juga dialami rasul Paulus yang memiliki penyakit yang masih belum sembuh total agar lewat penyakit tersebut dia tidak menyombongkan diri lalu melupakan Tuhan. Kita harus berpuas diri pada kasih karunia yang diberikan Tuhan, entah itu besar atau kecil, kita wajib mensyukurinya. Sebab justru dalam kelemahanlah kuasa Allah menjadi nyata. Seperti ada tertulis.

(II Korintus  12:7) Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.

Sumber: Alkitab

Lagi firman Tuhan berkata.

(II Korintus  12:9) Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Sumber: Alkitab

10. Hidup tanpa masalah gangguan atau kejutan.

(Imamat 26:5b-6) Kamu akan makan makananmu sampai kenyang dan diam di negerimu dengan aman tenteram. Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apa pun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu, dan pedang tidak akan melintas di negerimu.

Sumber: Alkitab

Memang benar perkataan firman Tuhan tersebut di atas, bukankah generasi kita sampai saat ini belum pernah diperhadapkan dengan peperangan? Akan tetapi, manusia bisa saja menginginkan lebih dari itu. Mereka ingin agar kehidupan mereka benar-benar tanpa masalah sekecil apa pun. Lantas mendoakan hal tersebut namun tidak pernah terwujud karena dimana ada kebersamaan di situlah terdapat gangguan sosial. Sebab masing-masing orang sibuk dengan urusannya yang tanpa sengaja bisa memekakkan indra kita.

Ketahuilah bahwa di dalam hidup ini, hampir mustahil untuk menemukan ketenteraman indra terkecuali anda menyendiri sepi di lokasi terpencil tanpa siapa-siapa. Sekali pun demikian masih ada potensi gangguan yang datang dari hewan-hewan yang berkeriapan di sekitar.

Satu-satunya kedamaian dan ketenteraman yang bisa kita gali dan temukan dalam hidup ini adalah yang letaknya di dalam hati masing-masing. Setiap orang mampu membiasakan diri terhadap berbagai gangguan di sekitarnya asalkan tetap mengarahkan fokus hati kepada Tuhan. Pada saat pikiran tertuju untuk selalu berdoa, membahas-bahas firman dan bernyanyi memuliakan keagungan-Nya. Alhasil rasa damai dan dan tenteram akan menguasai kita secara terus-menerus walau pun suasana sekitar sedang carut-marut. Intinya, firman Allah tentang ketenteraman dan damai lebih mudah dan praktis bila diwujudkan di dalam hati masing-masing. Sebab kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol aktivitas sesama, peraturan yang terlalu ketat justru membuat kepribadian kita tidak berkembang.  

11. Berkat tentang masa depan yang luar biasa dari yang lain.

(Amsal 23:18) Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

Sumber: Alkitab

Ada orang kristen yang meninggalkan Tuhan karena ekspektasinya terhada janji-janji firman yang terlalu berlebihan. Sebab pada dasarnya, kebenaran firman berpusat pada sorga dan menjelaskan hal-hal sorgawi. Akan tetapi, dunia ini juga memiliki pesonanya sendiri yang disebut dengan kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Ketika kita menghubung-hubungkan kebenaran sorgawi dengan hawa nafsu terhadap gemerlapan duniawi, bisa saja keadaan tersebut justru menimbulkan kekecewaan.

Sama halnya seperti firman di atas, masa depan yang dijanjikan Tuhan adalah kegemilangan di dalam kerajaan sorga di kehidupan kedua kelak. Firman tersebut sedikit pun tidak menjanjikan sesuatu tentang kegemilangan duniawi yang syarat arogansi. Sebab justru harta dan kekuasaan yang terlalu besar membuat kita tidak mampu mengasihi sesama seperti diri sendiri.

12. Janji tentang keselamatan di akhir zaman.

(Yohanes  14:6) Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Sumber: Alkitab

Memang benar adanya bahwa setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan meneladani jalan hidup yang ditunjukkan-Nya pastilah beroleh sorga. Akan tetapi, beberapa orang mempermainkan kasih karunia yang diberikan Allah secara gratis. Mereka merasa bebas melakukan bahkan merencanakan dosa di dalam hatinya lalu sekonyong-konyong merasa bahwa dirinya berhak masuk sorga. Sadarilah bahwa sorga bukanlah tempat orang-orang yang picik pemikirannya melainkan kediaman bagi mereka yang suci hatinya. [Simak juga, Hindari mempermainkan kasih karunia dan anugerah Allah] Seperti ada tertulis.

(Yeremia  7:11) Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini? Kalau Aku, Aku sendiri melihat semuanya, demikianlah firman TUHAN.

Sumber: Alkitab

Lagi firman Allah berpesan demikian;

(Ibrani  10:26) Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.

Sumber: Alkitab

Kesimpulan

Ekspektasi beberapa orang terlalu tinggi keduniawiannya terhadap janji yang diucapkan Tuhan. Mereka berpikir bahwa dengan menggunakan dalil-dalil yang Alkitabiah maka hidupnya menembus kegemilangan duniawi dalam berbagai bidang. Bukankah keinginan untuk lebih unggul semacam ini sama saja dengan nafsu arogan yang jelas-jelas tidak disukai oleh Allah? Sebab yang dikehendaki Allah adalah bukan agar kita saling mengungguli melainkan agar saling melayani dalam kesetaraan satu sama lain. Firman-Nya sangat jelas terhadap umat, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” atau bisa dikatakan “agar masing-masing orang mengasihi orang lain seadil-adilnya tanpa pandang bulu.” Jadi, mulai sekarang marilah kita memfokuskan segala harapan yang dimiliki kepada sorga dan menjauhkannya dari dunia ini. Sebab ketika kita mengejar kegemilangan duniawi akan terjadi bias yang membuat hati canggung dan persaingan sengit yang dihadapi beresiko menyimpang dari jalur yang benar.

Salam, Meraih keunggulan duniawi,
membuat damai di hati pergi,
Tujukan harapan kepada sorga,
niscaya hidup tenteram selamanya!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.