Menata Ulang Ilmu Pengetahuan

Pengertian, Sumber & Bentuk Kebenaran – Apa Yang Benar Sangat Dibutuhkan Oleh Manusia Sebagai Pandangan Hidup

Kebenaran sudah ada dan akan terus ada mengiringi kehidupan umat manusia. Masalahnya sekarang, mampukah kita memahami dan mengaplikasikan serta memakluminya dalam kehidupan sehari-hari?

Seumur hidup manusia selalu mencari kebenaran

Pencarian manusia terhadap jalan kebenaran telah melalui jalan panjang yang berlikut. Karena ada hal-hal yang benar demikianlah kita bisa hidup sampai sekarang. Tanpanya mustahil kita mampu melangkahkan kaki lebih jauh lagi mengarungi dunia ini. Kita belajar lewat hal-hal yang terjadi di dalam setiap hari-hari yang dilalui. Proses yang panjang menimbang dan membandingkan berbagai hal hingga sampai saat ini, kita masih hidup. Seandainya kita tidak tahu tentang apa yang baik yang hendak dilakukan maka akan terjebak dalam suasana penuh ketegangan yang menguras emosi dan menghabiskan energi. Akan tetapi, pengetahuan yang benar akan hidup ini, melatih kita untuk menjadi pribadi yang senantiasa diperbaharui dari hari ke hari.

Setiap manusia sedapat mungkin mampu menyesuaikan diri dengan kebenaran di dalam masyarakat, itu bukanlah sesuatu yang sangat susah untuk dilakukan

Perkembangan kehidupan tidak hanya mencakup diri sendiri sebab jumlah manusia yang berlipat kali ganda seiring bertambahnya waktu. Entah suka atau tidak, kita harus hidup dalam kebersamaan dengan banyak orang yang disebut sebagai masyarakat. Mulai dari sinilah kita menemukan berbagai hal-hal baru yang kemudian diikuti dengan dorongan untuk menyesuaikan diri. Kemampuan untuk beradaptasi inilah yang menjadi salah satu nilai benar yang universal. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga orang yang gagal melakukannya sehingga bersikap di luar dari kebenaran itu sendiri.  Tindakan menyimpang yang mungkin saja dianggap sebagai keuntungan di awal-awal. Namun ujung-ujngnya baru disadari bahwa sikap tersebut telah merugikan orang lain, diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Keadaan manusia tanpa adanya hal-hal yang benar

Dimana pun kita hidup di seluruh dunia ini, selalu ada yang namanya kebenaran. Tanpanya, kedamaian akan lenyap, kesejahteraan akan hangus dan kebersamaan tidak ada lagi. Masih banyak hal baik yang akan hilang jikalau kita tidak menjaga hal-hal yang benar itu tetap berdiri teguh. Itu seperti tonggak kehidupan dimana tugas kitalah yang harus berusaha untuk membatnya tetap berdiri teguh, setidak-tidaknya dimulai dari hal yang menyangkut diri sendiri. Goyah sedikit saja pendirian untuk memeliharanya dengan baik, bisa memunculkan berbagai distorsi dalam kehidupan yang dijalani. Sebab tanpa disadari, keadaan yang benar itulah yang membuat kita tetap bersikap waras terhadap apa pun dari waktu ke waktu.

Saat nilai benar yang kita miliki mendangkal bahkan amblas dari tempatnya, besar kemungkinan pandangan mata tidak bisa lagi jernih. Kita seolah kehilangan landasan sehingga hidup terombang-ambing oleh kencangnya arus zaman ini. Sebab kebenaran itu seperti pegangan hidup, tempat untuk berlabut, tempat yang dituju dan pelabuhan hati masing-masing orang. Ketiadaannya seperti hilangnya terang dari depan mata, segala sesuatu gelap gulita dan aktivitas pun nihil. Malahan yang terjadi adalah ketakutan mulai timbul di dinding hati. Itu adalah permulaannya saja, selanjutnya akan timbul berbagai gangguan yang lebih besar hingga menyebabkan bencana.

Tidak ada masyarakat tanpa kebenaran sebab oleh hal-hal yang benar itulah terjalin rasa persatuan syarat kebersamaan sekali pun banyak perbedaan di sana-sini. Bisa dipastikan bahwa tanpa kebenaran kehidupan kita layaknya binatang di alam rimba; otot, taring dan cakar adalah aturannya. Selama memiliki kekuatan fisik semacam itu maka selama itu juga ada rasa aman, tenang, damai dan senang. Akan tetapi, pihak yang lemah akan dikunyah kuat-kuat untuk mencukupi kebutuhannya. Demikian juga masyarakan yang tidak dapat memelihara nilai-nilai yang benar maka segelintir orang yang merasa memiliki power lebih (kepintaran, kekayaan dan kekuasaan) akan memanfaatkan orang lain sebagai pijakan dan kesek kakinya belaka. Sedang diri sendiri hidup dalam kelimpahan, kemewahan, kemegahan, kenyamanan dan kemudahan yang lebay. Pada akhirnya, kebanggaannya inilah yang merusak hidupnya, orang lain dan lingkungan sekitar.

Reseptor penerima dan yang menilai sesuatu sudah benar adanya atau tidak

Ada banyak hal yajg bisa kita amati di sekitar tetapi tidak semuanya bisa dikatakan benar. Tentu saja pusat kebenaran di dalam diri kita terletak di dalam hati masing-masing. Sedang untuk memahami hal-hal yang berada di luar diri ini dibutuhkan panca indra. Apa yang dicitrakan oleh indra manusia biasanya bersifat umum, ada hal-hal yang positif dan ada hal yang negatif. Semuanya ini diterima apa adanya oleh kelima reseptor input informasi tersebut. Barulah kemudian pekerjaan otak yang mempertimbangkan, memilah-milah dan menetapkan dimana yang benar maupun yang tidak. Jika pikiran tidak lagi bekerja untuk menyeleksi setiap informasi maka sikap kita pun menjadi terombang-ambing Kebiasaan terombang-ambing semacam ini lebih bisa dipahami bila dikatakan “mudah terbawa arus.” Orang yang mudah terbawa arus zaman susah untuk dipercayai.

Asal kebenaran

Jika di telusuri baik-baik maka kita akan menemukan berbagai macam hal yang menjadi asal muasal dari hal-hal yang benar. Sejak dari awal kehidupan, ini bukanlah sesuatu yang jauh melainkan sudah ada di sekitar, di dekat bahkan di dalam diri manusia itu sendiri. Konflik berkepanjangan, peperangan, bencana alam, wabah penyakit dan lain sebagainya merupakan dampak terburuk dari ketiadaannya. Dari segi sumbernya, secara garis besar dibedakan atas dua bagian, yaitu sumber utama dan sumber kedua (pengembangan). Berikut ini akan kami jelaskan sebisanya, beberapa sumber utama dari hal-hal yang menjadi kekuatan dan sandaran manusia hingga saat ini.

a. Sumber utama (primary sources).

Utama karena dari hal-hal tersebutlah muncul kebenaran secara orisinil. Salah satu ciri khas dari yang utama ini adalah dibuthkan pengamatan dan waktu pengambilan kesimpulan yang cukup a lot. Tidak ada sesuatu yang benar dari sumber orisinil yang dapat langsung ditentukan apakah sesuatu tersebut sudah benar atau tidak. Melainkan butuh waktu dan pertimbangan yang matang sehingga kebenaran dari sumber-sumber orisinil dapat diekstrak dengan cara yang tepat.

  1. Tuhan yang maha esa. Dimana Tuhan itu? Atau lebih tepatnya, dimana Tuhan berada dalam diri manusia? Perlu di sadari bahwa segala sesuatu yang ada di sekitar kita dan termasuk manusia itu sendiri adalah karya tangan Tuhan. Sebagai ciptaan yang dianugerahkan kelebihan serta kelemahan, kita lebih baik dari segi kesadaran dibandingkan makhluk hidup lainnya. Satu-satunya komponen tubuh yang terhubung langsung dengan Sang Pencipta adalah otak kita. Di dalam pikiranlah Roh Allah selalu menceritakan ha-hal yang benar.

    Di balik keadaan ini, harap juga dipahami bahwa iblis ada di dalam hati setiap manusia. Kedagingan kita adalah perwujudan dari keberadaannya. Selama kita fokus melakukan hal-hal positif (fokus Tuhan, belajar dan bekerja). Selama itu pula kedagingan ditekan amblas. Akan tetapi, bila tidak ada alias pikiran kosong niscaya banyak hal negatif yang merasuk jiwa. Contoh kecilnya saja adalah kebanggaan, memuji diri sendiri, iri hati, benci, dendam, prasangka buruk, amarah dan banyak hal dekil lainnya yang akan mengarahkan hidup pada dosa.
  2. Pikiran manusia itu sendiri. Otak merupakan salah satu sumber kebenaran yang paling banyak kita percayai. Tuhan datang menyatakan kebenaran dalam hidup kita dengan memberikan inspirasi. Lantas lewat inspirasi tersebutlah, pikiran menemukan ide untuk dipercayai sebagai sebuah kebenaran. Inspirasi dari Tuhan juga bisa dalam bentuk suara hati. Kita tidak memikirkannya sebelumnya tapi tiba-tiba ada dorongan suara yang mendesak pikiran untuk melakukan hal-hal tertentu.

    Harap di pahami bahwa si iblis juga merefleksikan inspirasinya ke dalam otak kita. Perbedaan mendasar antara inspirasi yang berasal dari Tuhan dan yang berasal dari iblis terletak pada tujannya. Artinya, “seburuk-buruknya inspirasi dari Roh Kudus pasti tujuannya baik. Akan tetapi, sebaik-baiknya inspirasi dari si jahat pasti tujuannya untuk memperkeruh suasana atau merugikan orang lain dan lingkungan.” Ide-ide yang tidak bertujuan baik yang menjatuhkan atau menghancurkan kehidupan orang lain, pasti datangnya dari iblis. Orang bijak mampu menghadapi keburukan lalu mengubahnya menjadi pelajaran hidup.

    Tugas pikiran tidak hanya menyeleksi inspirasi yang menghujam kita, tetapi turut pula memikirkan baik-baik informasi yang kita terima dari luar. Pekerjaan utamanya adalah untuk memilah-milah, membandingkan, menilai dan memutuskan apakah informasi yang dicitrakan oleh panca indra sudah benar atau salah. Cara terbaik untuk senantiasa meremajakan pikiran sehingga semakin kritis dan bijak adalah dengan fokus kepada Tuhan dalam doa, membaca-mempelajari firman dan bernyanyi-nyanyi memuji kebesaran-Nya.
  3. Alam sekitar kita. Lingkungan alamiah merupakan sumber ilmu pengetahuan terbaik Dengan mempelajari sekitar, ada banyak nilai-nilai positif yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya saja tentang keadilan sosial di antara para hewan. Karena hewan liar tidak memahami keadilan maka kekuatan otot dan taring adalah pemberi keadilan: yang kuat menerkam yang lemah. Demikian juga halnya dalam kehidupan manusia, “tanpa kesetaraan maka umat manusia seperti dalam rantai makanan hewan di padang: yang kuat memangsa yang lemah, dimana semuanya itu terjadi secara halus.”

    Ada begitu banyak komponen lingkungan, di antaranya adalah tumbuhan, hewan, udara, air, tanah, batu, api dan lain sebagainya. Jika hal-hal alamiah tersebut bisa dipelajari dan diikuti proses-prosesnya niscaya akan ada lebih banyak nilai-nilai positif yang dapat kita peroleh. Salah satu yang terbaik adalah tentang siklus kehidupan. Segala sesuatu di bumi adalah hidup dan masing-masing menempati sistem yang bagian-bagiannya saling terhubung satu sama lain dalam perputaran yang sempurna. Jadi bisa dikatakan bahwa “kehidupan tidak pernah mati (berakhir) bila kita faham proses-proses yang membuatnya berputar terus dari waktu ke waktu.

b. Sumber penyebaran (secondary sources).

Dikatakan sebagai sumber kedua karena sesungguhnya asal-muasal kebenaran, aslinya bukanlah dari hal tersebut. Tugas sumber yang satu ini merupakan alat atau media yang dimanfaatkan sebagai tempat mendokumentasikan hal-hal yang benar tersebut untuk kemudian di sebarkan kepada seseorang di tempat tertentu.

  • Kitab Suci. Masing-masing orang mungkin saja meyakini hal yang berbeda-beda soal siapa Tuhannya? Salah satu cara terbaik untuk mengenal siapa Tuhan itu yakni dengan membaca surat cinta yang telah diberikan-Nya kepada umat manusia. Alkitab merupakan surat cinta Tuhan yang menuntun kita untuk mengenal apa itu kebenaran. Entah kapan ini disusun dan dibuat seperti sekarang, kita sangat bersyukur akan hal tersebut.

    Di sisi lain, harap diingat bahwa Alkitab pun perlu dinilai dengan cara yang benar. Sebab selama hidup di dunia ini, ada dua dasar dari kebenaran hakiki, yaitu kasih kepada Allah yang seutuhnya dan kasih kepada sesama seadil-adilnya. Ketika isi Kitab Suci menyimpang dari kedua hal tersebut maka akan dianggap sebagai perumpamaan yang bisa diambil makna positifnya sedang yang negatifnya diabaikan saja.
  • Perkataan yang terucap. Kata-kata yang kita sampaikan, entah itu secara langsung (lisan) maupun secara tidak langsung (tulisan) merupakan salah satu sumber penyebaran nilai-nilai yang benar. Orang yang menyampaikannya hanyalah sebagai salah satu alat agar nilai-nilai hakiki tersebut dapat dikenal oleh sebanyak-banyaknya orang.
  • Hukum atau undang-undang yang berlaku. Peraturan tidak muncul sendiri dengan tiba-tiba. Karena manusia membutuhkannya maka para pendahulu kita pun mulai bersepakat untuk membuat beberapa landasan hidup dalam kebersamaan yang setara. Ada hukum yang sudah lama ada sebelum generasi kita hadir dan ada pula hukum yang sudah dan sedang dibuat oleh orang-orang yang hidup sekarang ini. Pada dasarnya, semua hukum yang ada bertujuan untuk kedamaian, keamanan dan kesejahteraan seluruh masyarakat. Biasanya mengatur segala hal yang dibutuhkan untuk membuat umat manusia dapat hidup dalam kebenaran dan keadilan.
  • Buku tersedia. Terdapat beragam jenis dan judul buku yang tersedia. Rata-rata, bisa diperoleh di perpustakaan dengan status meminjam. Akan tetapi, ada juga yang dapat dibeli dari toko-toko khusus yang mengobralnya murah atau mahal. Setiap buku yang kita beli bisa saja menganut dua sisi kehidupan di dalamnya. Semuanya tergantung dari kita, apakah mampu mengekstraknya dengan telaten sehingga nilai-nilai benarnya bisa diambil sedangkan yang jahatnya dapat ditinggalkan.
  • Berbagai media pemberitaan. Ada begitu banyak media pemberitaan yang ada di sekitar kita. Mulai dari koran, majalah (cetak atau online), televisi, radio, media sosial, wordpress, facebook dan lain sebagainya. Pada umumnya, semuanya mewartakan hal-hal yang baik maupun buruk. Pilihan yang menentukan apakah yang mereka sampaikan sudah benar atau salah, tergantung dari sikap selektif dan kritis dari para penikmatnya.
  • Lembaga pendidikan dan pelatihan (formal & informal). Organisasi dalam masyarakat menjadi salah satu agen penyebar nilai-nilai yang benar. Umumnya organisasi yang bergerak di bidaing pendidikan dan pelatihan mengambil andil besar dalam menyebarkan ilmu pengetahuan yang benar di antara masyarakat. Pendidikan formal dapat melatih kita untuk bertekun dalam mengejar segala sesuatu. Sedang pelatihan yang kita tempuh merupakan cara tersingkat untuk memiliki bakat di bidang tertentu.
Pengertian, Sumber & Bentuk Kebenaran – Apa Yang Benar Sangat Dibutuhkan Oleh Manusia Sebagai Pandangan Hidup

Macam bentuk kebenaran yang dianut oleh manusia

Saat kita hidup sendiri tanpa orang-orang di sekitar, dapat melakukan apa saja sekehendak hati ini. Akan tetapi, ketika kita bermukim di suatu wilayah yang memiliki aturan sendiri yang tersistem maka mulai dari sanalah muncul niat hati agar lebih memperhatikan hal-hal yang benar. Jadi, bisa dikatakan bahwa kebersamaan di dalam masyarakat bisa menjadi katalisator untuk mempelajari berbagai aturan yang berlaku. Terlebih ketika kita adalah seorang pendatang baru di wilayah tersebut. Perbedaan tidak begitu jauh saat daerah tempat kita berasal memiliki wilayah regional (provinsi) yang sama. Akan tetapi bedanya akan lebih terang saat keduanya berjauh-jauhan terlebih ketika dikatakan berbeda negara. Berikut ini akan kami jelaskan beberapa jenis nilai yang hakiki berdasarkan pengalaman pribadi.

a. Kebenaran universal.

Mengapa disebut sebagai kebenaran universal? Karena hampir semua orang meyakini dan melakukannya. Entah itu orang dengan latar belakang pendidikan tinggi atau rendah, pekerjaan kantoran atau lapangan, agama yang ini atau itu, suku yang satu atau yang lain sama-sama menegakkan hal tersebut. Sesuatu yang bersifat umum diyakini dan dilakukan di tempat yang satu maupun di tempat yang lain, hanya saja tinggi rendahnya intensitas dan pelaksanaannya berbeda-beda (bervariasi) untuk setiap orang

  1. Mengasihi Tuhan seutuhnya. Sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa Tuhan itu ada. Dia telah menyatakan dirinya lewat berbagai kesaksian kepada orang-orang yang hidup sebelum kita di zaman yang berbeda. Kita mempercayai firman-Nya dan patuh serta taat terhadap segala perintah & larangannya. Sebesar cinta kita kepada-Nya demikianlah besarnya kesetiaan kita memegang dan menjalankan firman-Nya dari waktu ke waktu.
  2. Mengasihi sesama seperti diri sendiri. Guru Besar Kristen menyatakan bahwa mengasihi sesama adalah lakukanlah kepada orang lain apa yang ingin orang lain lakukan kepada anda. Saat kita merasa ini baik maka lakukanlah itu terlebih dahulu kepada orang lain. Itulah bukti yang menyatakan betapa cintanya kita kepada sesama, yakni saat kita memperlakukan orang lain lebih dari saudara melainkan seperti diri sendiri.
  3. Keadilan untuk semua. Sesatu dipandang adil saat mampu memperlakukan semua orang sama rata sekali pun latar belakangnya berbeda-beda. Di dalam hidup bermasyarakat, keadilan diproyeksikan dalam tiga kekuatan penting yaitu pengetahuan umum, pendapatan (gaji yang diperoleh) dan kekuasaan yang dimiliki. Apa yang adil dikatakan benar dan apa yang benar selalu diyakini sudah dilaksanakan dengan seadil-adilnya.
  4. Rendah hati. Orang yang rendah hati dianggap benar karena tidak mengedepankan keunggulannya di dalam hati maupun dihadapan sesama. Melainkan lebih banyak merendahkan diri bahkan menyangkal kelebihannya. Sebab dia sadar betul bahwa semua yang saat ini dimilikinya adalah peran besar dari Sang Pencipta. Lagi pula dia menyadari bahwa keberadaannya tidak pernah lepas dari pengaruh kebaikan orang-orang yang ada di sekitarnya.

    Lebih spesifiknya lagi, kerendahan hati diidentikkan dengan hidup sederhana. Hidup yang selalu berupaya menyatu dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Dengan ciri khas tidak memanfaatkan sumber daya secara berlebihan melainkan memiliki gaya hidup hampir seperti kebanyakan orang di sekitarnya.
  5. Menjadi tulus. Mereka yang tulus dikatakan benar karena setiap hal yang dilakukannya tidak diiringin dengan tuntutan tertentu sebagai balasannya. Mereka tidak mengharapkan balasan saat berbuat baik kepada sesama sebab harapannya digantungkan kepada hal-hal sorgawi yaitu kepada Tuhannya.
  6. Menjadi ikhlas. Mereka yang ikhlas disebut benar karena mampu menerima kenyataan apa adanya. Entah itu baik atau buruk, selalu menganggapnya sebagai suatu keputusan dari Yang Maha Kuasa. Satu-satunya hal yang masih mungkin untuk diubah adalah masa depan, perjuangkanlah itu agar mengarah kepada kebaikan hidup.
  7. Tidak ketergantungan dengan dunia. Orang yang tidak candu dengan apa pun, baik kenikmatan maupun kemuliaan duniawi adalah benar adanya. Sebab ketergantungan akan hal-hal tersebut cenderung membuat kita cepat bosannya lalu menginginkan lebih lagi dan lagi. Masalahnya adalah butuh biaya tinggi untuk merealisasikan setiap keinginan yang membludak di dalam dada. Orang yang tidak ketergantungan dengan dunia ini adalah orang benar yang hanya menggantungkan hidup kepada Tuhannya.
  8. Kejujuran (tidak berbohong). Penipu adalah anak sijahat tetapi yang jujur sikapnya dianggap benar karena tidak ada sesuatu yang salah di dalam dirinya. Apa yang ada dalam hati, itulah yang diungkapkan. Apa yang dialami dan dirasakan sendiri, itulah yang disaksikan/ dinyatakan kepada sesama manusia. Orang jujur tidak mau menjadi saksi atas perkara dusta sebab jalan hidupnya lurus penuh kebenaran.
  9. Rasa kebersamaan. Kebersamaan benar manusia tidak mengedepankan egonya dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan orang lain. Ada tenggang rasa yang saling memahami antara pribadi yang satu dan yang lain sehingga bersinergi untuk melakukan pekerjaan secara bersama-sama (kerja sama).
  10. Adaptasi diri. Kemampuan beradaptasi termasuk sebagai suatu hal yang benar karena manusia belajar untuk membuat dirinya seirama dengan masyarakat di sekitarnya. Seseorang dituntut untuk tidak terlalu mencolok atau terlalu pudar dalam mengekspresikan diri. Dia harus menemukan titik penyesuaian diri dimana prinsip hidupnya tetap dijalankan sembari mengikuti lantunan zaman yang terus bernyanyi.
  11. Rasa damai. Kedamaian ada dua aspek, di dalam diri masing-masing dan yang berlangsung di sekitar kita. Kedamaian juga selalu dikaitkan (sama artinya) dengan kententeraman, kelegaan, ketenangan, kebahagiaan dan kepuasan hidup. Kedamaian dikatakan benar karena tidak ada yang protes atau merasa dirugikan di saat yang sama. Kedamaian hati adalah awal dari kedamaian masyarakat.
  12. Sikap konsistensi. Mereka yang sikapnya konsisten dianggap benar karena tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Merasa yakin terhadap sesuatu lalu melakukannya secara terus-menerus tanpa henti pada momen yang tepat.
  13. Sikap rajin (tekun). Pihak yang rajin melakukan sesuatu dianggap benar selalu berusaha segiat-giatnya dalam melaksanakan segala sesuatu. Jika itu soal pekerjaan maka mereka akan berusaha mencapai batas atas kemampuannya saat melakukan pekerjaan. Tidak pernah terlambat saat mengikuti jadwal tertentu. Selalu tepat waktu menyelesaikan tanggung jawabnya. Orang yang bertekun keras kemauannya saat melakukan sesuatu. Mereka tidak mudah menyerah sebelum mencapai tujuannya.
  14. Disiplin dalam hidup. Mereka yang disiplin bertindak benar karena selalu meletakkan peraturan dihadapannya. Mereka selalu mematuhi setiap kesepakatan yang telah ditentukan sebelmnya tanpa berkelit sedikit pun. Seolah setiap aturan sudah ada di luar kepala sehingga dilaksanakan 100%.
  15. Setia sampai mati. Mereka yang setia dianggap benar karena hatinya telah melekat terhadap sesuatu sehingga sulit untuk ditinggalkan. Orang yang setia kepada Tuhannya tidak pernah berniat untuk melanggar firman-Nya walau hanya sedetik saja. Yang setia kepada pasangan hidupnya tidak pernah meninggalkan cintanya walau pun menyadari bahwa orang yang dicintainya juga memiliki kekurangan.

b. Kebenaran sepihak.

Dikatakan sebagai kebenaran sepihak karena hanya berlaku bagi kalangan tertentu saja. Tidak dapat dipahami secara keseluruhan oleh masyarakat biasa terkecuali bagi mereka yang membuat dan menjalankannya atau yang berkecimpung di bidang tertentu saja. Biasanya berisi aturan dengan norma dan azas tertentu yang bertujuan untuk kebaikan setiap anggotanya.

  1. Kebenaran Kitab Suci. Ada banyak aliran kepercayaan di dunia ini, mereka memiliki pedoman hidupnya sendiri-sendiri. Semuanya tertuang jelas dan konkrit di dalamnya. Setiap perkataan yang termuat dalam Kitab Suci tertentu hanya diyakini oleh orang tertentu juga. Selama ada perbedaan yang menyangkut isi Kitab Suci antara kepercayaan yang berbeda, itu tidak bisa dihubung-hubungkan begitu saja. Melainkan biarlah yang berbeda tetap berbeda karena dari awal agamanya pun berbeda.
  2. Kebenaran Hukum. Hukum dikatakan benar karena mampu memanusiawikan manusia. Biasanya dibuat oleh kalangan tertentu yang ditugaskan untuk itu dan berkompeten di bidangnya. Dibuat bukan untuk kepentingan segelintir orang melainkan demi kepentingan seluruh masyarakat. Sebab semua manusia setara di mata hukum. Norma hukum di seluruh negara Indonesia memang sama tetapi norma hukum di negara tetangga jelas berbeda dari Indonesia walau pada dasarnya mirip-mirip.
  3. Kebenaran wilayah/ daerah. Dikatakan sebagai kebenaran sepihak karena norma tersebut hanya berlaku di wilayah yang bersangkutan sedang di wilayah lain mungkin saja hal tersebut tidak dianggap.
  4. Kebenaran kelompok/ organisasi. Tiap-tiap organisasi memiliki aturannya sendiri-sendiri, itulah yang ditaati oleh masing-masing anggotanya. Organisasi profesi yang satu berbeda labuhan dan haluannya dengan organisasi profesi yang lainnya.
  5. Kebenaran realita. Sesuatu disebut sebagai realita yang benar karena memang hal tersebut telah terjadi di dunia nyata. Peristiwa yang telah terjadi senyatanya adalah suatu kebenaran, entah itu berhubungan dengan hal-hal baik maupun buruk. Berita bohong dikatakan hoax karena memang belum terjadi atau sudah terjadi tetapi ternyata hanya sebuah sandiwara yang dikonspirasikan. Jadi, berita hoax dari segi realita tidaklah benar tetapi mungkin dari sisi yang lain bisa digolongkan benar adanya.
  6. Kebenaran kebiasaan. Seseorang menganggap dirinya sudah benar karena hal tersebut sudah biasa dilakukan. Untuk mengubah apa yang dirasa benar tersebut rasanya sulit sekali. Seolah semuanya telah mendarah daging sehingga sulit untuk dilupakan. Akan tetapi, kebiasaan orang yang satu selalu berbeda dari orang lainnya.
  7. Kebenaran sudut pandang. Masing-masing dari kita memiliki opini sendiri-sendiri saat memandang sesuatu dan lain hal. Pendapat yang diutarakan berbeda satu sama lain sehingga menimbulkan perbedaan warna. Keadaan ini seperti saat menyanyikan koor masal, ada suara yang berbeda-beda namun semuanya benar. Perbedaan sudut pandang ini jugalah yang membuat pengetahuan kita diperkaya jikalau mampu menerima setiap gagasan apa adanya.

Kesimpulan

Pengertian – Kebenaran adalah suatu pandangan hidup yang memiliki standar tertentu sebagai syarat untuk mendatangkan suatu kebaikan bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar kita.  

Defenisi

Ada banyak sudut pandang yang digunakan untuk menilai sesuatu apakah benar atau salah. Orang yang satu bisa saja menganggap ini sebagai sebuah kebenaran tetapi orang yang lain melihatnya lain: perbedaan semacam ini lumrah terjadi. Jangan hanya karena hal-hal sepele, orang-orang bersitegang leher demi memperebutkan siapa sebenarnya yang asli. Hanya saja, kiranya apa yang kita anggap sebagai sebuah pandangan bermutu yang diyakini tidak bertentangan dengan yang hakiki, yaitu kasih kepada Allah yang seutuhnya dan kasih kepada sesama seadil-adilnya. Artinya, sekali pun gagasan kita berbeda-beda satu sama lain tentang sesuatu, setidak-tidaknya kebenaran sejati inilah yang tetap membuat kita dipersatukan dalam kebersamaan. Semuanya itu berupaya meniadakan kejahatan di dalam diri manusia sebab Tuhan selalu ada di dalam hatinya serta tidak ada keburukan di dalam masyarakat karena masing-masing diperlakukan seadil-adilnya oleh penguasa/ pejabat.

Salam, Benarlah dalam bersikap,
dimulai dari pola pikir yang cakap,
diiringi dengan gagasan yang lengkap
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.